Tugas
kelompok
MAKALAH
EKONOMI PEMBANGUNAN
(KEPENDUDUKAN
DAN TENAGA KERJA)

Oleh :
KELOMPOK I
Syahria Ningsih 10571 01691 10
Ulfah.M 10571
01692 10
Mutiah 10571
01693 10
Karno 10571
01694 10
Maya Sari 10571
01695 10
Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi
Pembangunan
Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah
Makassar
2012
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan atas
kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunianya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah Ekonomi Pembangunan ini, yang membahas tentang Penduduk
dan Tenaga kerja, dengan tugas makalah ini kami menulis dan menyelesaikannya
untuk memperluas wawasan kami tentang materi ini, agar kami sebagai mahasiswa
dapat mengetahuinya. Maka
dengan itu, kami akan mempresentasikan hasil makalah ini agar kita semua memahaminya dan membuka wawasan dan
pikiran kita.
Dalam
kesempatam ini, kami mengucapkan terima kasih kepada dosen yang bersangkutan
yang telah membimbing kita semua.
Dan
teman–teman yang telah membantu untuk menyelesaikan makalah ini.
Assalamu
alaikum wr.wb
Penulis
Kelompok
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Salah
satu perintang pembangunan ekonomi di negara-negara yang sedang berkembang dan yang sekaligus merupakan cirri
negara-negara tersebut ialah adanya ledakan penduduk (population explotion dan
population pressure). Telah kita ketahui bahwa tujuan pembangunan ekonomi
adalah peningkatan standar hidup penduduk negara yang bersangkutan, yang biasa
diukur dengan kenaikan negara rill per kapita. Pendapatan rill per kapita
adalah sama dengan pendapatan nasional rill atau output secara keseluruhan yang
dihasilkan selama satu tahun dibagi dengan jumlah penduduk seluruhnya. Jadi
standar hidup tidak akan dapat dinaikkan kecuali jika output total diperlukan
penambahan investasi yang cukup besar agar supaya dapat menyerap pertambahan
penduduk yang berarti naiknya pendapatan ril per kapita. Oleh karena itu
sebenarnya terdapat perpacuan antara perkembangan pendapatan nasional rill
(output total) dengan perkembangan penduduk, di mana dapat dilihat bahwa arti
pentingnya perkembangan penduduk adalah mengenai pengaruhnya terhadap standar
hidup penduduk itu sendiri,
B. Rumusan
Masalah
1. Apa peranan penduduk dalam pembangunan ekonomi ?
2. Apa faktor utama yang menentukan perkembangan penduduk
?
3. Bagaimana kualitas tenaga kerja di indonesia ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Peran
Penduduk dalam Pembangunan Ekonomi
Kapasitas
yang rendah dari negara sedang berkembang untuk meningkatkan output totalnya
harus diimbangi dengan penurunan tingkat perkembangan penduduk, sehingga
penghasilan rill per kapita akan dapat meningkat. Dengan kapasitas yang rendah
untuk menaikkan output totalnya dan tanpa diimbangi dengan turunnya tingkat
perkembangan penduduk, maka akan terjadi penundaan pembangunan ekonomi.
Ada 4 aspek penduduk yang perlu diperhatikan
di negara-negara sedang berkembang, yaitu:
Ø Tingkat perkembangan penduduk yang relative tinggi
Penduduk
memiliki dua peranan dalam pembangunan ekonomi, satu dari segi permintaan dan
yang lain dari segi penawaran. Dari segi permintaan penduduk bertindak sebagai
produsen. Oleh karena itu perkembangan penduduk yang cepat tidaklah selalu
merupakan penghambat bagi jalannya pembangunan ekonomi jika penduduk penduduk
ini mempunyai kapasitas yang tinggi untuk menghasilkan dan menyerap hasil
produksi yang dihasilkan. Ini berarti tingkat pertambahan penduduk yang tinggi
disertai dengan tingkat penghasilan yang tinggi pula. Jadi pertambahan penduduk
dengan tingkat penghasilan yang rendah tidak ada gunanya bagi pembangunan
ekonomi.
Tidak
ada suatu keragu-raguan terhadap sejarah di negara-negara yang sudah maju bahwa
pertambahan penduduk yang pesat justru menyumbang terhadap kenaikan penghasilan
rill per kapita. Ini disebabkan karena negara-negara yang sudah maju tersebut
telah siap dengan tabunagn yang akan melayani kebutuhan investasi. Tambahan
penduduk justru akan menambah potensi masyarakat untuk enghasilkan dan juga
sebagai sumber permintaan yang baru. Keadaan ini dapat kita hubungkan dengan
teori dari Professor A.Hansen mengenai stagnasi secular (secularSagnation),
yang megatakan bahwa bertambahnya jumlah penduduk justru akan
menciptakan/memperbesar permintaan agregatif, terutama investasi. Para pengikut
Keynes tidak melihat tambahan penduduk sekadar sebagai tambahan penduduk saja,
tetapi juga melihat adanya suatu kenaikan dalam daya beli (purchasing power).
Di samping itu para pengikut Keynes juga menganggap tenaga kerja ini akan
selalu mengiringi kenaikan jumlah penduduk.
Kalau
seandainya terjadi penurunan jumlah penduduk, maka akan terjadi pula penurunan
dalam rangsangan untuk mengadakan investasi dan permintaan agregatif juga akan
turun. Jika perkembangan penduduk tertunda maka akumulasi capital juga akan
menjadi lesu karena beberapa alasan, yaitu wiraswasta akan mengira bahwa pasar
menjadi semakin sempit. Sedangkan karena tingkat keuntungan merupakan fungsi dari
luasnya pasar, maka investasi yang tergantung pada tingkat keuntungan, akan
menjadi berbahaya dan akibatnya akan menurun. Disamping alas an itu pertambahan
penduduk juga mendorong adanya perluasan investasi karena adanya kebutuhan
perumahan yang semakin besar dan juga kebutuhan-kebutuhan yang bersifat umum
seperti jalan raya, fasilitas pengangkutan umum, persediaan air minum,
kesehatan dan sebagainya Kebutuhan akan capital dalam bidang ini relative lebih
besar daripada bidang-bidang lain sehingga penurunan tingkat perkembangan
penduduk akan mengakibatkan turunnya akumulasi kapital.
Bagi
negara-negara yang sedang berkembang keadaannya sama sekali terbalik, yaitu
bahwa perkembangan penduduk yang cepat jusru akan menghambat ekonomi. Kaum
klasik seperti adam Smith, David Ricardo dan Thomas Robert Malthus berpendapat
bahwa selalu aka nada perlombaan antara tingkat perkembangan output dengan
tingkat perkembangan penduduk, yang akhirnya akan dimenangkan oleh perkembangan
penduduk. Jadi karena penduduk juga berfungsi sebagai tenaga kerja, maka paling
tidak akan terdapat kesulitan dalam lapangan penyediaan pekerjaan. Kalau
penduduk itu dapat memperoleh pekerjaan, maka hal itu dapat meningkatkan
kesejahteraan bangsanya. Tetapi kalau mereka tidak dapat memperoleh pekerjaan,
yang berarti mereka itu menganggur, maka justru akan menekan standar hidup bangsanya
menjadi lebih rendah.
Oleh
karena itu penduduk yang selalu berkembang menuntut adanya perkembangan ekonomi
yang terus menerus pula. Semua ini memerlukan lebih banyak investasi yang
biasanya berasal dari tabungan. Tabungan ini pada umumnya tersedia di
negara-negara yang sudah maju. Bagi negara-negara sedang berkembang,
perkembangan penduduk justru merupakan perintang perkembangan ekonomi, karena
negara-negara ini sedikit sekali memiliki kapital. Usaha-usaha untuk mengadakan
tabungan dirasa sangat susah dan memerlukan banyak pengorbanan.
Ø Struktur Umur yang Tidak Favorable
Negara-negara
sedang berkembang memiliki tingkat kelahiran yang tinggi dan tingkat kematian
yang rendah. Hal ini mengakibatkan adanya segolongan besar penduduk usia muda
lebih besar proporsinya daripada golongan pendududk usia dewasa. Keadaan
penduduk yang seperti ini disebut sebagai penduduk yang berciri “expansive”.
Umumnya
negara sedang berkembang memiliki angka beban tanggungan yang
tinggi karena besarnya jumlah penduduk usia muda. Proposi yang besar dari
penduduk usia muda ini tidak menguntungkan bagi pembangunan ekonomi, karena:
1. Penduduk
golongan muda usia, cenderung untuk memperkecil angka penghasilan perkapita dan
mereka semua merupakan konsumen dan bukan produsen dalam perekonomian tersebut.
2. Adanya
golongan penduduk usia muda yang besa jumlahnya disuatu Negara akan
mengakibatkan lebih banyak alokasi factor-faktor produksi kearah
“investasi-investasi sosial” dan bukan ke “investasi-investasi kapital”. Oleh
karena itu paling tidak ia akan menunda perkembangan ekonomi.
Ø Distribusi Penduduk yang Tidak Seimbang
Tingakat
urbanisasi
yang tinggi pada umumnya telah dihubungkan dengan daerah-daerah yang secara
ekonomis telah maju dan bersifat industri. Urbanisasi ini mempunyai pengaruh
dan akibat-akibat yang berbeda dinegara-negara yamg sudah maju bila
dibandingkan dinegara-negara yang sedang berkembang. Dinegara-negara maju hanya
sebagian kecil penduduk disektor pertanian.Urbanisasi biasanya terjadi karena
adanya tingkat upah yang lebih menarik disektor industri (dikota) dari pada
tingkat upah didesa (sector pertanian).
Untuk
negara sedang berkembang, hal ini dapat mengakibatkan adanya ketidakseimbangan
perkembangan ekonomi antara sektor pertanian dan sektor industri, yaitu bila
urbanisasi terus terjadi sampai kekurangan tenaga kerja muncul sebagai masalah
di sector pertanian. Dengan demikian maka sector pertanian tidak cukup dapat
menyediakan barang-barang ataupun jasa-jasa yang dibutuhkan oleh sector
industri. Akibatnya perkembangan akan tergantung dari sektor perdagangan internasional. Keingainan untuk
mencapai perkembangan yang seimbang antara kedua sector itu juga merupakan
masalah yang tidak mudah diatasi, karena adanya keharusan dalam membagi jumlah
tabungan yang terbatas, diantara investasi social dan investasi kapital yang
produktif.
Untuk Indonesia
misalnya terdapat pula masalh distribusi kepadatan penduduk, yang lebih
bersifat masalh distribusi kepadatan secara regional daripada antara sektor
kota dan desa. Sebenarnya masalah kepadatan penduduk di Indonesia terbatas
kepada masalah di Pulau Jawa yang kira-kira berjumlah 70% dari seluruh penduduk
Indonesia. Pulau-pulau sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian (Papua) adalah
pulau-pulau yang jauh lebih besar daripada pulau Jawa, tetapi mempunyai tingkat
kepadatan penduduk yang jauh lebih rendah disbanding dengan di Pulau Jawa.
Sebagai akibat dari pembedaan kepadatan penduduk itu, maka beberapa daerah
mengalami kekurangan tenaga kerja dan juga industry, sedangkan Pulau Jawa
memiliki jumlah industri yang lebih banyak dan tenaga kerja yang berlimpah-limpah.
Ketidakseimbangan distribusi penduduk baik antara desa daerah yang kurang
berkembang juga akan menghambat jalannya pembangunan ekonomi karena pembangunan
ekonomi memerlukan mobilitas tenaga kerja yang lebih rendah, yang didapati di
negara-negara atau daerah-daerah yang mempunyai dsitribusi penduduk yang lebih
merata.
Ø Kualitas Tenaga kerja yang Rendah
Rendahnya
kualitas penduduk juga merupakan penghalang pembangunan ekonomi suatu Negara.
Ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga
kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi, terutama industri jelas sekali
dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak
dapat membaca dan menulis.Dengan kata lain pendidikan merupakan faktor penting
bagi berhasilnya pembangunan ekonomi.Bahkan menurut Schumacer pendidikan
merupakan sumber daya yang terbesar manfaatnya disbanding faktor-faktor
produksi lain.
B. Ledakan
Penduduk (Population Explosion)
Dari banyak penelitian
kita mengetahui bahwa faktor
utama yang menentukan perkembangan penduduk adalah tingkat kematian,tingkat
kelahiran,dan tingkat perpindahan penduduk (migrasi). Dua faktor yang pertama sangat besar peranannya dalam
mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk. Disamping itu jumlah penduduk yang besar
secara absolut akan bertambah lebih cepat daripada jumlah penduduk yang kecil,
walaupun laju pertumbuhannya sama. Dari pengalaman yang ada, laju pertumbuhan
penduduk selalu meningkat bagi dunia secara keseluruhan sampai awal abad ke-20.
Kemudian dapat diperkirakan lamanya waktu yang dibutuhkan bagi suatu jumlah
penduduk untuk menjadi dua kali lipat (doubling time) apabila kita mengetahui
tingginya laju pertumbuhan.
Ø Tingkat
Kematian (Death Rate)
Ada
4 faktor yang menyumbang terhadap penurunan angka kematian pada umumnya:
a. Adanya
kenaikan standar hidup sebagai akibat kemajuan teknologi dan meningkatnya
produktivitas tenaga kerja serta tercapainya perdamaian dunia yang cukup lama.
b. Adanya
perbaikan pemeliharaan kesehatan umum (kesehatan masyarakat), maupun kesehatan
individu.Dalam abad ke-19 ini telah banyak usaha yang ditunjukkan untuk
memperbaiki mutu bahan makanan dan air minum serta adanya peningkatan dalam
kebersihan individu, yang selama ini mendorong terhindarkannya hampir segala
macam penyakit.
c. Adanya
kemajuan dalam bidang ilmu kedokteran serta diperkenalkannya lembaga-lembaga
kesehatan umum yang modern, world health organization(WHO) sehingga dapat
mengurangi jumlah orang yang terserang penyakit.
d. Meningkatnya
penghasilan riil perkapita, sehingga orang mampu membiayai hidupnya dan bebas
dari kelaparan dan penyakit,dan selanjutnya dapat hidup dengan sehat.
Ø Tingkat
Kelahiran (Birth Rate)
Dinegara-negara
industry pertumbuhan penduduk berlsngsung terus disamping adanya penurunan
tingkat kelahiran, misalnya di Perancis,Amerika Serikat dan Inggris, tingkat
kelahiran terus menurun sejak abad ke 19 sampai awal abad ini. Hanya setelah
perang dunia ke- II, tingkat kelahiran meningkat dan mempercepat tingkat
pertambahan penduduk.Tingkat kelahiran lebih dihubungkan dengan perkembangan
ekonomi melalui pola-pola kebudayaan seperti: umur perkawinan, status
wanitanya, kedudukan antara rural dan urban serta sifat-sifat dari system
famili yang ada.
Walaupun
program keluarga berencana sudah lama diperaktekkan dinegara-negara sedang
berkembang(Indonesia,India,Filipina dan sebagainya), namun tingkat kelahiran
masih dikatakan tinggi disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan masih
primitifnya struktur social dan kebudayaan.
Dinegara-negara
yang sudah maju, terutama dinegara-negara, penurunan tingkat kematian
sungguh-sungguh telah diikuti oleh suatu penurunan tingkat kelahiran pula. Oleh
karena itu ada seorang profesor, yaitu E.E Hagen, menganggap bahwa tingkat
kelahiran itu ditentukan oleh tingginya tingkat kematian. Keadaan tersebut
berbeda dengan keadaan dinegara-negara sedang berkembang,dimana turunnya
tingkat kelahiran belum tampak,bahkan dibeberapa Negara tingkat kelahiran masih
menunjukkan gejala-gejala yang meningkat sampai awal 1970-an.
Ø Migrasi
Migrasi
mempunyai peranan juga dalam menentukan tingkat pertumbuhan penduduk.Oleh
karena itu tingkat pertumbuhan penduduk tidak dapat di perhitungkan hanya dari tingkat
kelahiran dan tingkat kematian saja. Bagi negara sedang berkembang
migrasi tidaklah berarti dalam peningkatan
jumlah penduduk ataupun dalam penguranagan jumlah penduduk.Perpindahan penduduk
ke luar negeri dari negara-negara sedang berkembang tidaklah mungkin dapat
terlaksana lagi guna mengurangi
kepadatan penduduknya.
Hal ini di sebabkan
banyak negara seperti Australia,Rhodesia dan Suriname tidak bersedia menerima
perpindahan penduduk dari negara – negara sedang berkembang yang padat
penduduknya, dengan alasan kesuliatan – kesulitan integrasi sosial dan rendahnya tingkat skill
di negara- negara yang mengalami tekanan penduduk tersebut.
Akibatnya
dengan penurunan tingkat kematian yang cepat dan tepat tingginya tingkat
kelahiran dan kurang efektifnya migrasi, maka pertumbuhan penduduk akan tampak
sangat cepat dan mengakibatkan terjadinya ledakan penduduk di negara-negara
sedang berkembang.
C. Kualitas
Tenaga Kerja
Sejauh
ini kita memperhatikan peranan tenaga
kerja sebagai salah satu faktor produksi
yang akan mempengaruhi tinggi renfahnya tingkat pendapatan nasional dari segi
kuantitas atau jumlah saja. Sementara ini kita beranggapan bahwa kalau jumlah
tenaga kerja yang dipakai dalam usaha produksi meningkat, maka jumlah produksi
yang bersangkutan juga meningkat. Dengan kata lain kalau tidak ada peningkatan
jumlah tenaga kerja mak ajumlah produksi akan tetap. Pernyataan yang demikian
ini, tidak dapat seluruhnya dianggap benar karena walaupun jumlah tenaga kerja
ini tidak berubah, tetapi bila kualitas dari tenaga kerja itu menjadi lebih
baik, maka dapat terjadi bahwa tingkat produksi akan meningkat pula.
Selama
kita beranggapan bahwa, tingkat produksi hanya tergantung pada jumlah tenaga kerja,
berarti kita menganggap bahwa tenaga itu bersifat heterogen. Sedangkan dalam
kenyataannya tenaga kerja itu sanagat heterogen baik dilihat dari segi umur,
kemampuan kerja kesehatan, pendidikan, jenis kelamin, keahlian dan sebagainya.
Jadi agar ananlisis kita mengenai peranan tenaga kerja bagi pembangunan ekonomi
menjadi lebih teliti dan baik, maka kita harus melihat tenaga kerja ini sebagai
faktor produksi yang heterogen. Oleh karena itu karena itu dalam merencanakan
pertumbuhan ekonomi dalam hubungannya dengan penggunaan tenaga kerja, juga
diperlukan adanya perencanaan tenaga kerja (manpower planning) secara tepat.
Suatu negara harus mamapu memperkirakan
misalnya berapa jumlah tenaga ahli teknik, tenaga dokter, tenaga dosen, tenaga
guru, tenaga tukang kayu, ahli bangunan, akuntan, sekretaris untuk lima sampai
sepluh tahun yang akan datang.
Sebelum
kita melihat bagaimana meningkatkan kualitas, perlu kita ketahui terlebih
dahulu apa yang menjadi tujuan dari faktor produksi tenaga kerja itu. Tujuan
utama factor produksi itu mau dipekerjakanadalah guna mendapatkan balas jasa
yang disebut upah dan gaji sebagai harga dari tenaga kerja tersebut. Dengan
kata lain penawaran tenaga kerja akan tergantung pada tinggi rendahnya tingkat
upah. Semakain tingi tingkat upah sipasar tenaga kerja akan semakin tinggi pula
jumlah pewaran kerja dan demikian sebaliknya. Dalam hubungan ini perlu
dikemukakan bahwa hubungan tingkat upah dengan penawaran tenaga kerja seseorang
berbeda dengan hubungan antara tingkat upah dan penawran tenaga kerja
perorangan sering ditunjukkan oleh kurva penawaran tenaga kerja yang berbelok
kebelakang (backward bending supply curve). Ini berarti bahwa setelah tingkat
upah tertentu, dengan naiknya tingkat upah, tidak akan mendorong seseorang
untuk bekerja lebih lama atau lebih giat karena pada tingkat pendapatan yang
relative tinggi orang ingin hidup lebih santai.
Tetapi
untuk perekonomian sebagai keseluruhan, semakin tingginya tingkat upah masih
akan mendorong semakin banyak orang untuk masuk kepasara tenaga kerja.
Orang-orang yang tadinya tidak mau bekerja pada tingkat upah yang rendah akan
tersedia untuk bekerja dan ikut mencari pekerjaan pada tingkat upah yang lebih
tinggi. Dilain pihak denga adanya perkembangan peradaban nasional, peranan tingakat
upah dalam mempengaruhi kemauan orang untuk bekerja masih cukup besar, terutama
dengan adanya “efek pamer” maka orang akan tidak merasa bahwa
kebutuhannya telah terpuaskan seluruhnya. Dengan dipenuhinya satu kebutuhan,
maka kebutuhan baru akan muncul lagi. Begitu seterusnya, sehingga dapat
dikatakan bahwa kebutuhan itu memang terbatas jumlahnya.
Apa yang
kita uraikan diatas adalah dalam hubunagnnya denagn usaha kita untuk
meningkatkan pendapatan nasional lewat peningkatan jumlah tenaga kerja yang
tersedia untuk diikutkan dalam kegiatan produksi. Peningkatan tersedianya
jumlah tenaga kerja bagi proses produksi itu dapat terlihat baik dari jumlah
tenaga kerja dalam arti orang ataupun dalam jumlah hari kerja orang (mandays)
maupun jam kerja orang (man hours). Dapat saja terjadi jumlah orang bekerja
tetap, tetapi jumlah hari erja orang atau jam kerja orangnya bertambah. Perlu
diketahui bahwa tersedianya jam kerja untuk proses itu dipengaruhi oleh kemauan
dan kemampuan untuk bekerja. Orang mau bekerja tetapi tidak mampu bekerja sama
artinya dengan orang yang mampu bekerja tetapi tidak mau bekerja. Oleh karena
itu kita harus sanggup mencari faktor-faktor apa yang dapat meningakatkan
kemauan dan kemampuan untuk bekerja seseorang. Teori ekonomi sudah menemukan bahwa
kemauan seseorang untuk bekerja itu lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat upah
yang ada.
Semakin
tinggi tingkat upah, semakin tinggi kemauan seseorang untuk bekerja atau
menawarkan tenaga kerjanya. Dilain pihak kemampuan untuk bekerja seseorang
terutama sekali dipengaruhi oleh keadaan kesehatannya dan kecakapannya,
keterampilan dan keahliannya. Selanjutnya tingkat kesehatan dipengaruhi oleh
kesehatan gizi dan lingkunagannya, sedangkan kecakapan, keterampilan dan
keahlian dipengaruhi oleh tingkat pendidikan baik formal maupun tidak formal
seperti latihan-latihan kerja (on the job training).
Perselisihan ketenagakerjaan adalah
pertentangan antara majikan atau perkumpulan majikan dengan serikat buruh atau
gabungan serikat buruh berhubung dengan tidak adanya persesuaian paham
mengenai hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan/atau keadaan ketenagakerjaan.
Dengan perselisihan dimaksdukan, perselisihan yang timbul karena salah satu
pihak pada perjanjian tidak memenuhi isi perjanjian atau peraturan dan menyalahi
ketentuan hukum.
Mengenai
perselisihan hak-hak di bidang ketenagakerjaan ada dua badan instansi yang
berwenang menyelesaikannya yaitu Pengadilan Negeri dan Panitia Penyelesaian
Perselisihan Perburuhan. Perselisihan ketenagakerjaan itu sendiri dapat diselesaikan
secara damai oleh mereka yang berselisih sendiri baik tanpa maupun dengan
bantuan pihak ketiga atau tidak secara damai. Penyelesaian sengketa secara
sukrela biasanya dimulai dengan tuntutan dari pihak organisasi buruh kepada
pihak majikan mengenai misalnya kenaikan upah. Tuntutan ini pertama-tama harus
diselesaikan kedua belah pihak dengan jalan perundingan. Hasil perundingan bila
merupakan persetujuan dapat disusun menjadi suatu perjanjian perburuhan menurut ketentuan dalam undang-undang.
Tiap perselisihan yang tidak dapat diselesaikan dengan perundingan dan oleh
yang berselisih harus disampaikan surat kepada pegawai ketenagakerjaan.
Pemberitahuan ini dipandang sebagai permintaan kepada pegawai ketenagakerjaan
untuk member perantaraan guna mencari penyelesaian dalam perselisihan tersebut.
Perantaraan yang wajib diberitahukan itu dimulai dengan mengadakan penyeldikan
tentang duduk perkara perselisihan dan sebab-sebabnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kapasitas
yang rendah dari negara sedang berkembang untuk meningkatkan output totalnya
harus diimbangi dengan penurunan tingkat perkembangan penduduk, sehingga
penghasilan rill per kapita akan dapat meningkat.
Peranan
tenaga kerja adalah sebagai salah satu faktor produksi yang akan mempengaruhi
tinggi rendahnya tingkat pendapatan nasional dari segi kuantitas dan jumlah.
Apabila jumlah tenaga kerja itu tidak berubah/tetap, tetapi bila kualitas dari
tenaga kerja itu menjadi lebih baik, maka dapat terjadi bahwa tingkat produksi
akan meningkat pula.
B. Saran
Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat
ini masih jauh dari kesempurnan. Oleh karena itu, kami sangat menghargai kritik
dan saran yang membangun dari pembaca guna perbaikan makalah ini.
No comments:
Post a Comment