Monday, 10 February 2014

MAKALAH EKONOMI PEMBANGUNAN

Tugas kelompok
MAKALAH
 EKONOMI PEMBANGUNAN
(KEPENDUDUKAN DAN TENAGA KERJA)

logo Unismuh.jpg
Oleh :
KELOMPOK  I
                        Syahria Ningsih 10571 01691 10
                        Ulfah.M              10571 01692 10
                        Mutiah               10571 01693 10
                        Karno                 10571 01694 10
                        Maya Sari           10571 01695 10

Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Makassar
2012


KATA PENGANTAR
         Puji dan syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Ekonomi Pembangunan ini, yang membahas tentang Penduduk dan Tenaga kerja, dengan tugas makalah ini kami menulis dan menyelesaikannya untuk memperluas wawasan kami tentang materi ini, agar kami sebagai mahasiswa dapat mengetahuinya. Maka dengan itu, kami akan mempresentasikan hasil makalah ini agar kita semua memahaminya dan membuka wawasan dan pikiran kita.
         Dalam kesempatam ini, kami mengucapkan terima kasih kepada dosen yang bersangkutan yang telah membimbing kita semua. Dan teman–teman yang telah membantu untuk menyelesaikan makalah ini.
  
Assalamu alaikum wr.wb

                                                                                                                        Penulis
                                                                                                                     Kelompok 1

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
         Salah satu perintang pembangunan ekonomi di negara-negara yang sedang berkembang  dan yang sekaligus merupakan cirri negara-negara tersebut ialah adanya ledakan penduduk (population explotion dan population pressure). Telah kita ketahui bahwa tujuan pembangunan ekonomi adalah peningkatan standar hidup penduduk negara yang bersangkutan, yang biasa diukur dengan kenaikan negara rill per kapita. Pendapatan rill per kapita adalah sama dengan pendapatan nasional rill atau output secara keseluruhan yang dihasilkan selama satu tahun dibagi dengan jumlah penduduk seluruhnya. Jadi standar hidup tidak akan dapat dinaikkan kecuali jika output total diperlukan penambahan investasi yang cukup besar agar supaya dapat menyerap pertambahan penduduk yang berarti naiknya pendapatan ril per kapita. Oleh karena itu sebenarnya terdapat perpacuan antara perkembangan pendapatan nasional rill (output total) dengan perkembangan penduduk, di mana dapat dilihat bahwa arti pentingnya perkembangan penduduk adalah mengenai pengaruhnya terhadap standar hidup penduduk itu sendiri,

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa peranan penduduk dalam pembangunan ekonomi ?
2.      Apa faktor utama yang menentukan perkembangan penduduk ?
3.      Bagaimana kualitas tenaga kerja di indonesia ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Peran Penduduk dalam Pembangunan Ekonomi
         Kapasitas yang rendah dari negara sedang berkembang untuk meningkatkan output totalnya harus diimbangi dengan penurunan tingkat perkembangan penduduk, sehingga penghasilan rill per kapita akan dapat meningkat. Dengan kapasitas yang rendah untuk menaikkan output totalnya dan tanpa diimbangi dengan turunnya tingkat perkembangan penduduk, maka akan terjadi penundaan pembangunan ekonomi.
         Ada 4 aspek penduduk yang perlu diperhatikan di negara-negara sedang berkembang, yaitu:
Ø   Tingkat perkembangan penduduk yang relative tinggi
         Penduduk memiliki dua peranan dalam pembangunan ekonomi, satu dari segi permintaan dan yang lain dari segi penawaran. Dari segi permintaan penduduk bertindak sebagai produsen. Oleh karena itu perkembangan penduduk yang cepat tidaklah selalu merupakan penghambat bagi jalannya pembangunan ekonomi jika penduduk penduduk ini mempunyai kapasitas yang tinggi untuk menghasilkan dan menyerap hasil produksi yang dihasilkan. Ini berarti tingkat pertambahan penduduk yang tinggi disertai dengan tingkat penghasilan yang tinggi pula. Jadi pertambahan penduduk dengan tingkat penghasilan yang rendah tidak ada gunanya bagi pembangunan ekonomi.
         Tidak ada suatu keragu-raguan terhadap sejarah di negara-negara yang sudah maju bahwa pertambahan penduduk yang pesat justru menyumbang terhadap kenaikan penghasilan rill per kapita. Ini disebabkan karena negara-negara yang sudah maju tersebut telah siap dengan tabunagn yang akan melayani kebutuhan investasi. Tambahan penduduk justru akan menambah potensi masyarakat untuk enghasilkan dan juga sebagai sumber permintaan yang baru. Keadaan ini dapat kita hubungkan dengan teori dari Professor A.Hansen mengenai stagnasi secular (secularSagnation), yang megatakan bahwa bertambahnya jumlah penduduk justru akan menciptakan/memperbesar permintaan agregatif, terutama investasi. Para pengikut Keynes tidak melihat tambahan penduduk sekadar sebagai tambahan penduduk saja, tetapi juga melihat adanya suatu kenaikan dalam daya beli (purchasing power). Di samping itu para pengikut Keynes juga menganggap tenaga kerja ini akan selalu mengiringi kenaikan jumlah penduduk.
         Kalau seandainya terjadi penurunan jumlah penduduk, maka akan terjadi pula penurunan dalam rangsangan untuk mengadakan investasi dan permintaan agregatif juga akan turun. Jika perkembangan penduduk tertunda maka akumulasi capital juga akan menjadi lesu karena beberapa alasan, yaitu wiraswasta akan mengira bahwa pasar menjadi semakin sempit. Sedangkan karena tingkat keuntungan merupakan fungsi dari luasnya pasar, maka investasi yang tergantung pada tingkat keuntungan, akan menjadi berbahaya dan akibatnya akan menurun. Disamping alas an itu pertambahan penduduk juga mendorong adanya perluasan investasi karena adanya kebutuhan perumahan yang semakin besar dan juga kebutuhan-kebutuhan yang bersifat umum seperti jalan raya, fasilitas pengangkutan umum, persediaan air minum, kesehatan dan sebagainya Kebutuhan akan capital dalam bidang ini relative lebih besar daripada bidang-bidang lain sehingga penurunan tingkat perkembangan penduduk akan mengakibatkan turunnya akumulasi kapital.
         Bagi negara-negara yang sedang berkembang keadaannya sama sekali terbalik, yaitu bahwa perkembangan penduduk yang cepat jusru akan menghambat ekonomi. Kaum klasik seperti adam Smith, David Ricardo dan Thomas Robert Malthus berpendapat bahwa selalu aka nada perlombaan antara tingkat perkembangan output dengan tingkat perkembangan penduduk, yang akhirnya akan dimenangkan oleh perkembangan penduduk. Jadi karena penduduk juga berfungsi sebagai tenaga kerja, maka paling tidak akan terdapat kesulitan dalam lapangan penyediaan pekerjaan. Kalau penduduk itu dapat memperoleh pekerjaan, maka hal itu dapat meningkatkan kesejahteraan bangsanya. Tetapi kalau mereka tidak dapat memperoleh pekerjaan, yang berarti mereka itu menganggur, maka justru akan menekan standar hidup bangsanya menjadi lebih rendah.
         Oleh karena itu penduduk yang selalu berkembang menuntut adanya perkembangan ekonomi yang terus menerus pula. Semua ini memerlukan lebih banyak investasi yang biasanya berasal dari tabungan. Tabungan ini pada umumnya tersedia di negara-negara yang sudah maju. Bagi negara-negara sedang berkembang, perkembangan penduduk justru merupakan perintang perkembangan ekonomi, karena negara-negara ini sedikit sekali memiliki kapital. Usaha-usaha untuk mengadakan tabungan dirasa sangat susah dan memerlukan banyak pengorbanan.
Ø   Struktur Umur yang Tidak Favorable
         Negara-negara sedang berkembang memiliki tingkat kelahiran yang tinggi dan tingkat kematian yang rendah. Hal ini mengakibatkan adanya segolongan besar penduduk usia muda lebih besar proporsinya daripada golongan pendududk usia dewasa. Keadaan penduduk yang seperti ini disebut sebagai penduduk yang berciri “expansive”.
         Umumnya negara sedang berkembang memiliki angka beban tanggungan yang tinggi karena besarnya jumlah penduduk usia muda. Proposi yang besar dari penduduk usia muda ini tidak menguntungkan bagi pembangunan ekonomi, karena:
1.      Penduduk golongan muda usia, cenderung untuk memperkecil angka penghasilan perkapita dan mereka semua merupakan konsumen dan bukan produsen dalam perekonomian tersebut.
2.      Adanya golongan penduduk usia muda yang besa jumlahnya disuatu Negara akan mengakibatkan lebih banyak alokasi factor-faktor produksi kearah “investasi-investasi sosial” dan bukan ke “investasi-investasi kapital”. Oleh karena itu paling tidak ia akan menunda perkembangan ekonomi.
Ø   Distribusi Penduduk yang Tidak Seimbang
         Tingakat urbanisasi yang tinggi pada umumnya telah dihubungkan dengan daerah-daerah yang secara ekonomis telah maju dan bersifat industri. Urbanisasi ini mempunyai pengaruh dan akibat-akibat yang berbeda dinegara-negara yamg sudah maju bila dibandingkan dinegara-negara yang sedang berkembang. Dinegara-negara maju hanya sebagian kecil penduduk disektor pertanian.Urbanisasi biasanya terjadi karena adanya tingkat upah yang lebih menarik disektor industri (dikota) dari pada tingkat upah didesa (sector pertanian).                                                                            
         Untuk negara sedang berkembang, hal ini dapat mengakibatkan adanya ketidakseimbangan perkembangan ekonomi antara sektor pertanian dan sektor industri, yaitu bila urbanisasi terus terjadi sampai kekurangan tenaga kerja muncul sebagai masalah di sector pertanian. Dengan demikian maka sector pertanian tidak cukup dapat menyediakan barang-barang ataupun jasa-jasa yang dibutuhkan oleh sector industri. Akibatnya perkembangan akan tergantung dari sektor  perdagangan internasional. Keingainan untuk mencapai perkembangan yang seimbang antara kedua sector itu juga merupakan masalah yang tidak mudah diatasi, karena adanya keharusan dalam membagi jumlah tabungan yang terbatas, diantara investasi social dan investasi kapital yang produktif.
         Untuk Indonesia misalnya terdapat pula masalh distribusi kepadatan penduduk, yang lebih bersifat masalh distribusi kepadatan secara regional daripada antara sektor kota dan desa. Sebenarnya masalah kepadatan penduduk di Indonesia terbatas kepada masalah di Pulau Jawa yang kira-kira berjumlah 70% dari seluruh penduduk Indonesia. Pulau-pulau sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian (Papua) adalah pulau-pulau yang jauh lebih besar daripada pulau Jawa, tetapi mempunyai tingkat kepadatan penduduk yang jauh lebih rendah disbanding dengan di Pulau Jawa. Sebagai akibat dari pembedaan kepadatan penduduk itu, maka beberapa daerah mengalami kekurangan tenaga kerja dan juga industry, sedangkan Pulau Jawa memiliki jumlah industri yang lebih banyak dan tenaga kerja yang berlimpah-limpah. Ketidakseimbangan distribusi penduduk baik antara desa daerah yang kurang berkembang juga akan menghambat jalannya pembangunan ekonomi karena pembangunan ekonomi memerlukan mobilitas tenaga kerja yang lebih rendah, yang didapati di negara-negara atau daerah-daerah yang mempunyai dsitribusi penduduk yang lebih merata.
Ø   Kualitas Tenaga kerja yang Rendah
         Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan penghalang pembangunan ekonomi suatu Negara. Ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi, terutama industri jelas sekali dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis.Dengan kata lain pendidikan merupakan faktor penting bagi berhasilnya pembangunan ekonomi.Bahkan menurut Schumacer pendidikan merupakan sumber daya yang terbesar manfaatnya disbanding faktor-faktor produksi lain.

B.     Ledakan Penduduk (Population Explosion)
         Dari banyak penelitian kita mengetahui bahwa faktor utama yang menentukan perkembangan penduduk adalah tingkat kematian,tingkat kelahiran,dan tingkat perpindahan penduduk (migrasi). Dua faktor yang pertama sangat besar peranannya dalam mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk. Disamping itu jumlah penduduk yang besar secara absolut akan bertambah lebih cepat daripada jumlah penduduk yang kecil, walaupun laju pertumbuhannya sama. Dari pengalaman yang ada, laju pertumbuhan penduduk selalu meningkat bagi dunia secara keseluruhan sampai awal abad ke-20. Kemudian dapat diperkirakan lamanya waktu yang dibutuhkan bagi suatu jumlah penduduk untuk menjadi dua kali lipat (doubling time) apabila kita mengetahui tingginya  laju pertumbuhan.
Ø   Tingkat Kematian (Death Rate)
      Ada 4 faktor yang menyumbang terhadap penurunan angka kematian pada umumnya:
a.       Adanya kenaikan standar hidup sebagai akibat kemajuan teknologi dan meningkatnya produktivitas tenaga kerja serta tercapainya perdamaian dunia yang cukup lama.
b.      Adanya perbaikan pemeliharaan kesehatan umum (kesehatan masyarakat), maupun kesehatan individu.Dalam abad ke-19 ini telah banyak usaha yang ditunjukkan untuk memperbaiki mutu bahan makanan dan air minum serta adanya peningkatan dalam kebersihan individu, yang selama ini mendorong terhindarkannya hampir segala macam penyakit.
c.       Adanya kemajuan dalam bidang ilmu kedokteran serta diperkenalkannya lembaga-lembaga kesehatan umum yang modern, world health organization(WHO) sehingga dapat mengurangi jumlah orang yang terserang penyakit.
d.      Meningkatnya penghasilan riil perkapita, sehingga orang mampu membiayai hidupnya dan bebas dari kelaparan dan penyakit,dan selanjutnya dapat hidup dengan sehat.
Ø   Tingkat Kelahiran (Birth Rate)
         Dinegara-negara industry pertumbuhan penduduk berlsngsung terus disamping adanya penurunan tingkat kelahiran, misalnya di Perancis,Amerika Serikat dan Inggris, tingkat kelahiran terus menurun sejak abad ke 19 sampai awal abad ini. Hanya setelah perang dunia ke- II, tingkat kelahiran meningkat dan mempercepat tingkat pertambahan penduduk.Tingkat kelahiran lebih dihubungkan dengan perkembangan ekonomi melalui pola-pola kebudayaan seperti: umur perkawinan, status wanitanya, kedudukan antara rural dan urban serta sifat-sifat dari system famili yang ada.
         Walaupun program keluarga berencana sudah lama diperaktekkan dinegara-negara sedang berkembang(Indonesia,India,Filipina dan sebagainya), namun tingkat kelahiran masih dikatakan tinggi disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan masih primitifnya struktur social dan kebudayaan. Dinegara-negara yang sudah maju, terutama dinegara-negara, penurunan tingkat kematian sungguh-sungguh telah diikuti oleh suatu penurunan tingkat kelahiran pula. Oleh karena itu ada seorang profesor, yaitu E.E Hagen, menganggap bahwa tingkat kelahiran itu ditentukan oleh tingginya tingkat kematian. Keadaan tersebut berbeda dengan keadaan dinegara-negara sedang berkembang,dimana turunnya tingkat kelahiran belum tampak,bahkan dibeberapa Negara tingkat kelahiran masih menunjukkan gejala-gejala yang meningkat sampai awal 1970-an.
Ø   Migrasi
         Migrasi mempunyai peranan juga dalam menentukan tingkat pertumbuhan penduduk.Oleh karena itu tingkat pertumbuhan penduduk tidak dapat di perhitungkan hanya  dari tingkat  kelahiran dan tingkat kematian saja. Bagi negara sedang berkembang migrasi  tidaklah berarti dalam peningkatan jumlah penduduk ataupun dalam penguranagan jumlah penduduk.Perpindahan penduduk ke luar negeri dari negara-negara sedang berkembang tidaklah mungkin dapat terlaksana  lagi guna mengurangi kepadatan penduduknya.
         Hal ini di sebabkan banyak negara seperti Australia,Rhodesia dan Suriname tidak bersedia menerima perpindahan penduduk dari negara – negara sedang berkembang yang padat penduduknya, dengan alasan kesuliatan – kesulitan  integrasi sosial dan rendahnya tingkat skill di negara- negara yang mengalami tekanan penduduk tersebut.
         Akibatnya dengan penurunan tingkat kematian yang cepat dan tepat tingginya tingkat kelahiran dan kurang efektifnya migrasi, maka pertumbuhan penduduk akan tampak sangat cepat dan mengakibatkan terjadinya ledakan penduduk di negara-negara sedang berkembang.
C.    Kualitas Tenaga Kerja
         Sejauh ini kita memperhatikan  peranan tenaga kerja sebagai salah satu faktor  produksi yang akan mempengaruhi tinggi renfahnya tingkat pendapatan nasional dari segi kuantitas atau jumlah saja. Sementara ini kita beranggapan bahwa kalau jumlah tenaga kerja yang dipakai dalam usaha produksi meningkat, maka jumlah produksi yang bersangkutan juga meningkat. Dengan kata lain kalau tidak ada peningkatan jumlah tenaga kerja mak ajumlah produksi akan tetap. Pernyataan yang demikian ini, tidak dapat seluruhnya dianggap benar karena walaupun jumlah tenaga kerja ini tidak berubah, tetapi bila kualitas dari tenaga kerja itu menjadi lebih baik, maka dapat terjadi bahwa tingkat produksi akan meningkat pula.
         Selama kita beranggapan bahwa, tingkat produksi hanya tergantung pada jumlah tenaga kerja, berarti kita menganggap bahwa tenaga itu bersifat heterogen. Sedangkan dalam kenyataannya tenaga kerja itu sanagat heterogen baik dilihat dari segi umur, kemampuan kerja kesehatan, pendidikan, jenis kelamin, keahlian dan sebagainya. Jadi agar ananlisis kita mengenai peranan tenaga kerja bagi pembangunan ekonomi menjadi lebih teliti dan baik, maka kita harus melihat tenaga kerja ini sebagai faktor produksi yang heterogen. Oleh karena itu karena itu dalam merencanakan pertumbuhan ekonomi dalam hubungannya dengan penggunaan tenaga kerja, juga diperlukan adanya perencanaan tenaga kerja (manpower planning) secara tepat. Suatu  negara harus mamapu memperkirakan misalnya berapa jumlah tenaga ahli teknik, tenaga dokter, tenaga dosen, tenaga guru, tenaga tukang kayu, ahli bangunan, akuntan, sekretaris untuk lima sampai sepluh tahun yang akan datang.
         Sebelum kita melihat bagaimana meningkatkan kualitas, perlu kita ketahui terlebih dahulu apa yang menjadi tujuan dari faktor produksi tenaga kerja itu. Tujuan utama factor produksi itu mau dipekerjakanadalah guna mendapatkan balas jasa yang disebut upah dan gaji sebagai harga dari tenaga kerja tersebut. Dengan kata lain penawaran tenaga kerja akan tergantung pada tinggi rendahnya tingkat upah. Semakain tingi tingkat upah sipasar tenaga kerja akan semakin tinggi pula jumlah pewaran kerja dan demikian sebaliknya. Dalam hubungan ini perlu dikemukakan bahwa hubungan tingkat upah dengan penawaran tenaga kerja seseorang berbeda dengan hubungan antara tingkat upah dan penawran tenaga kerja perorangan sering ditunjukkan oleh kurva penawaran tenaga kerja yang berbelok kebelakang (backward bending supply curve). Ini berarti bahwa setelah tingkat upah tertentu, dengan naiknya tingkat upah, tidak akan mendorong seseorang untuk bekerja lebih lama atau lebih giat karena pada tingkat pendapatan yang relative tinggi orang ingin hidup lebih santai.
         Tetapi untuk perekonomian sebagai keseluruhan, semakin tingginya tingkat upah masih akan mendorong semakin banyak orang untuk masuk kepasara tenaga kerja. Orang-orang yang tadinya tidak mau bekerja pada tingkat upah yang rendah akan tersedia untuk bekerja dan ikut mencari pekerjaan pada tingkat upah yang lebih tinggi. Dilain pihak denga adanya perkembangan peradaban nasional, peranan tingakat upah dalam mempengaruhi kemauan orang untuk bekerja masih cukup besar, terutama dengan adanya “efek pamer”  maka orang akan tidak merasa bahwa kebutuhannya telah terpuaskan seluruhnya. Dengan dipenuhinya satu kebutuhan, maka kebutuhan baru akan muncul lagi. Begitu seterusnya, sehingga dapat dikatakan bahwa kebutuhan itu memang terbatas jumlahnya.
         Apa yang kita uraikan diatas adalah dalam hubunagnnya denagn usaha kita untuk meningkatkan pendapatan nasional lewat peningkatan jumlah tenaga kerja yang tersedia untuk diikutkan dalam kegiatan produksi. Peningkatan tersedianya jumlah tenaga kerja bagi proses produksi itu dapat terlihat baik dari jumlah tenaga kerja dalam arti orang ataupun dalam jumlah hari kerja orang (mandays) maupun jam kerja orang (man hours). Dapat saja terjadi jumlah orang bekerja tetap, tetapi jumlah hari erja orang atau jam kerja orangnya bertambah. Perlu diketahui bahwa tersedianya jam kerja untuk proses itu dipengaruhi oleh kemauan dan kemampuan untuk bekerja. Orang mau bekerja tetapi tidak mampu bekerja sama artinya dengan orang yang mampu bekerja tetapi tidak mau bekerja. Oleh karena itu kita harus sanggup mencari faktor-faktor apa yang dapat meningakatkan kemauan dan kemampuan untuk bekerja seseorang. Teori ekonomi sudah menemukan bahwa kemauan seseorang untuk bekerja itu lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat upah yang ada.
         Semakin tinggi tingkat upah, semakin tinggi kemauan seseorang untuk bekerja atau menawarkan tenaga kerjanya. Dilain pihak kemampuan untuk bekerja seseorang terutama sekali dipengaruhi oleh keadaan kesehatannya dan kecakapannya, keterampilan dan keahliannya. Selanjutnya tingkat kesehatan dipengaruhi oleh kesehatan gizi dan lingkunagannya, sedangkan kecakapan, keterampilan dan keahlian dipengaruhi oleh tingkat pendidikan baik formal maupun tidak formal seperti latihan-latihan kerja (on the job training).
         Perselisihan ketenagakerjaan adalah pertentangan antara majikan atau perkumpulan majikan dengan serikat buruh atau gabungan serikat buruh berhubung dengan tidak adanya persesuaian paham mengenai hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan/atau keadaan ketenagakerjaan. Dengan perselisihan dimaksdukan, perselisihan yang timbul karena salah satu pihak pada perjanjian tidak memenuhi isi perjanjian atau peraturan dan menyalahi ketentuan hukum.
         Mengenai perselisihan hak-hak di bidang ketenagakerjaan ada dua badan instansi yang berwenang menyelesaikannya yaitu Pengadilan Negeri dan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan. Perselisihan ketenagakerjaan itu sendiri dapat diselesaikan secara damai oleh mereka yang berselisih sendiri baik tanpa maupun dengan bantuan pihak ketiga atau tidak secara damai. Penyelesaian sengketa secara sukrela biasanya dimulai dengan tuntutan dari pihak organisasi buruh kepada pihak majikan mengenai misalnya kenaikan upah. Tuntutan ini pertama-tama harus diselesaikan kedua belah pihak dengan jalan perundingan. Hasil perundingan bila merupakan persetujuan dapat disusun menjadi suatu perjanjian perburuhan menurut ketentuan dalam undang-undang. Tiap perselisihan yang tidak dapat diselesaikan dengan perundingan dan oleh yang berselisih harus disampaikan surat kepada pegawai ketenagakerjaan. Pemberitahuan ini dipandang sebagai permintaan kepada pegawai ketenagakerjaan untuk member perantaraan guna mencari penyelesaian dalam perselisihan tersebut. Perantaraan yang wajib diberitahukan itu dimulai dengan mengadakan penyeldikan tentang duduk perkara perselisihan dan sebab-sebabnya.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
         Kapasitas yang rendah dari negara sedang berkembang untuk meningkatkan output totalnya harus diimbangi dengan penurunan tingkat perkembangan penduduk, sehingga penghasilan rill per kapita akan dapat meningkat.
         Peranan tenaga kerja adalah sebagai salah satu faktor produksi yang akan mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat pendapatan nasional dari segi kuantitas dan jumlah. Apabila jumlah tenaga kerja itu tidak berubah/tetap, tetapi bila kualitas dari tenaga kerja itu menjadi lebih baik, maka dapat terjadi bahwa tingkat produksi akan meningkat pula.

B.     Saran

          Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari kesempurnan. Oleh karena itu, kami sangat menghargai kritik dan saran yang membangun dari pembaca guna perbaikan makalah ini.

No comments:

Post a Comment